Ach. Sunandar
Malam yang dingin sehabis turun hujan siang tadi. Di beberapa ruas jalan, tampak genangan air, ataupun aliran air yang tak mampu ditampung selokan. Pada saat seperti ini, bisa dipastikan orang-orang lebih senang berada di dalam rumah yang hangat. Namun demikian, di salah satu kobung (mushalla dari kayu dan bambu) di daerah Dundang, beberapa orang berkumpul. Jumlahnya kurang lebih 25 orang. Mereka duduk bersila dan melingkar.
Beberapa orang yang baru datang menyalami orang-orang yang sudah lebih dahulu datang, saling menyapa, dan setelah itu mengambil tempat yang masih kosong. Segera, secangkir kopi hangat dihidangkan oleh petugas. Orang-orang itu kemudian mengambil rokok, menyulutnya dengan korek dan menghisapnya dengan nikmat.
Mereka adalah anggota kelompok swadaya masyarakat Jami'ul Muttaqin di daerah Dundang, kecamatan Guluk-Guluk, kabupaten Sumenep Madura. Malam ini adalah acara rutin mereka pada setiap malam ahad yaitu tahlilan.
Menurut keterangan K. Abuniman, ketua kelompok ini, jumlah anggota kurang lebih 27 orang yang berasal dari lingkungan desa Dundang ataupun dari desa tetangga. "Alhamdulillah masyarakat gi' kasokan apol kompol tor adua'agi oreng-oreng seppo epon," (Alhamdulillah, masyarakat masih mau berkumpul untuk mendoakan para leluhur mereka) demikian disampaikan oleh K. Abuniman.
Setelah pembacaan tahlil dan doa, biasanya anggota kelompok melakukan beg-rembag (musyawarah) mengenai berbagai masalah yang dihadapi dalam keseharian kehidupan mereka. Secara informal, mereka mengutarakan berbagai informasi desa termutakhir, atau melontarkan masalah-masalah pelik yang sedang dihadapi. Selanjutnya, secara bersama-sama mereka membicarakan masalah-masalah itu dan syukur-syukur bisa ditemukan pemecahan yang tepat untuk menyelesaikan masalah tersebut.
"Akolompok benyak guna epon. Misal, samangken oreng tani sanget sossa asebab pupuk sulit ekaolle, namun lebat kelompok oreng tani bisa olleh pupuk, meskipun tak nyokopagi namun pendenan." (Banyak manfaat dari berkelompok. Misal, sekarang para petani kesulitan mendapatkan pupuk, namun melalui kelompok mereka bisa memperoleh pupuk, meskipun kurang namun mendingan daripada tidak dapat sama sekali) kata K. Abuniman. Selanjutnya K. Abuniman berkata, "Semoga kalaben akalompok permasalahan permasalahan anggota khusus epon e dalem pertanian bisa korang. Ben salaen ka'dinto, tetap asajen semma' dhe' gusti Allah." (Semoga dengan berkelompok maka permasalahan-permasalahan yang dihadapi para anggota, khususnya dalam bidang pertanian bisa diselesaikan. Dan selain itu, semakin dekat dengan Allah Swt melalui doa dan ikhtiar yang dilakukan bersama). Amien.
Inilah keunikan dan sekaligus kekuatan masyarakat desa yang sampai sekarang masih terus terpelihara. Tentunya, di tengah-tengah persoalan perpecahan masyarakat yang menghantui kehidupan berbangsa kita, apa yang dilakukan masyarakat desa Dundang ini adalah sesuatu yang menggembirakan. Dengan berkelompok mereka telah mempererat persaudaraan, meminimalisir perpecahan, serta saling memberi dan berbagi di antara sesama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar